Membatasi diri, menutup potensi. Menanti hujan tanpa ingin menyambut pelangi. Itu yang mungkin saya lakukan selama 6 tahun terakhir ini. Hanya berpasrah diri mengikuti kemana air hidup ini mengalir, tanpa kuasa memilih bangkit menjadi diri sendiri.
Yang terparah, dan kini saya sadari, saya sudah membatasi mimpi.
Selama ini, saya hanya berorientasi pada yang pasti. Tidak pernah berani. Mengabaikan suara hati dan memaksanya mengikuti rasio yang mematri "tidak akan bisa, itu tidak mungkin, standarnya terlalu tinggi kau tak pantas, cukup, dan kesimpulannya...Berhentilah Bermimpi!"
Saya yang selalu menimbang-nimbang, selalu berkata pada diri sendiri, ini itu harus tepat, dirimu tidak pernah boleh salah. Seakan tidak pernah mau menemui resiko, padahal kenyataannya setiap pilihan pasti beresiko. Dan membentuk diri...Keraguan dalam segala hal.
Yuki, sebenarnya yang anda perlukan saat ini hanya...
Jujur pada diri sendiri, katakan apa yang sangat ingin kau mimpikan. Kenapa anda selalu berhenti di garis muka, bukankah anda belum melangkah masuk arena?? Berpikir, merasa, menganggap "Aku tidak akan bisa" hanya akan merugi. Sudah, lupakanlah segala yang telah terlewati, masa yang tidak akan menjumpaimu kembali, sekarang tataplah masa nanti, anda tidak sendiri, Yuki, ingat itu. Tuhan Yesus bersama mu.
Temukan lagi yang hilang.
Kata papa mama, dulu kamu ceria, kenapa sekarang penduka?
Katanya dulu kamu berorganisasi, kenapa sekarang ego menjadi "pejuang" ingin menang sendiri?
Kata teman-teman, dulu kamu rajin, kenapa sekarang frustasi?
Aku ingat, dulu aku penuh ide, brilian, berani, semangat. Kenapa sekarang pasif penuh ambiguitas?
God Jesus, I just miss my 5th grade at elementary school, jika aku boleh mereka-ulang nya kembali. Aku ingin membuatnya lebih berarti, perjalananku sejauh ini yang kulewati begitu saja tanpa arti..tanpa hati...
Yang aku lewati tanpa memahami hidupku berarti, yang aku lewati hanya sekedar melewati, menghindari bayangan. Setiap senja menuju malam yang kupenuhi dengan isak tangis setiap berhadapan dengan-Mu. Kemudian, pada tahun 2010 yang sangkaku aku menemukan jati diri, tolak balik kebanggaanku, namun nyatanya semu, setelah semua berlalu dan semua itu, kusadari, menjauhkanku dari Mu.
In Faith. Cheer ur days up. Be Brave.
Do everything, just as for God.
Not for people, nor for own glory.
0 comments:
Post a Comment