on Jun 13, 2019
13 Juni 2016,
tiga tahun setelahnya

Akhirnya SElesai
Yang membuatku hampir menyerah saat memulainya
Yang dulu kutangisi hampir setiap hari (lebay sih memang waktu itu)
Yang menarikku ke CISRAL, Senin ke Jumat, jam 8 pagi ke jam 6 sore (ngga bergeming)
+ ngga makan siang juga (yes, puasa deh), karena takut tempat duduk diambil orang terus nanti jadi ngga punya tempat buat skripsian..


Akhirnya SElesai
Yang membuatku pernah ngerasain hopeless
dengan ciri-ciri:
-bangun kepagian (matahari belum terbit)
-terus duduk bengong dengan tatapan kosong di meja belajar di kosan..
doa sih..
saat teduh sih..
tapi habis itu bengong lagi 
-lalu jalan ke kampus sih seperti biasa (ke CISRAL), tapi cari jalan muter biar agak jauhan jalannya, lalu jalannya dengan langkah gontai kayak orang ngga punya tenaga sambil berkali-kali bengong lagi
-sambil jalan berusaha tarik napas dalem dalem biar rasanya agak legaan dan ngga nyesek
-sambil jalan kepala nyut nyutan karena masih mikir, "duh gimana ya caranya itu tobiiit tobit (baca buku udah, nanya dosen matkul udah, tapi tetep masih bingung)"

Tapi, Thank God! (yes, memang Tuhan Yesus baik banget), pas udah tinggal nyebrang jalan ke CISRAL, tiba-tiba papasan dong sama Pak Dosbing (aku udah mau puter balik, mau ngelengos gitu..) "toh si Bapak ngga akan liat..", pikirku. Eh.. ternyata dipanggil! wkwk
Terus si Bapak manggil dengan cerah ceria gitu *emm tumben*, lalu diminta ketemu di ruangan beliau, bimbingan bentar, eh beres gitu aja masalahnya 

Thank God, ngga perlu lama-lama hopeless :")


Akhirnya SElesai
dengan hati yang (sedikit lebih) tenang, karena adek kelas ku ngingetin "everything is in God's control, mau lulus tepat waktu atau engga, inget Tuhan Yesus yang pegang kendali ka". Thank you Putri :) :")




Akhirnya SElesai
total 4 eksperimen, di 2 sekolah, dengan total peserta eksperimennya 240 adek-adek kelas 3 SD,
dibantu teman-temanku (yang baik hati ramah tidak sombong, ku terharu u u):
Cindy, ka Raffael, Andrey, Bernard, Chaterine, Evan, Gressya, Ian, Impian, Mikhael, Rafli, Vicky, William, Daniel PAW 
Yang rela pagi-pagi bangun, bantu ngejemputin adek-adek dari kelasnya masing2, bantu (+bersabar) pas eksperimen. Special thanks to Cindy & ka Raffael who helped me to explain all the stuffs to adek-adek inii--not easy....but Cindy & ka Raffael both naturally & effortlessly perfect! And cool!
Temen-temen ini yang bantu ngitungin uang donasi dari adek-adek kayak tim habis ngamen pas selesai eksperimen wkwk
Lalu, thanks to Ian yang bantu desain kenang-kenangan untuk sekolahnya, thanks to Daniel PAW yang bantu buatin video dokumentasi. And the list goes on...
I can't do those things without you guys :") 



Akhirnya SElesai
Yes, I got two amazing supervisors (sekaligus!)

Thank you, Pak Fahmi & Pak Martin

Akhirnya SElesai




Thank God Jesus, I'm still alive huhu..
on Jun 5, 2019
Sudah terlalu lama..

Mengapa memulai lagi?
Karena kangen nge-blog (klise)
Karena mau sharing
Karena banyak cerita yang belum dicatat
Karena mencoba menceritakan yang bermanfaat
Ya, semoga menarik juga

Semoga tidak se-serius dulu?
Ya, semoga.. :)


I used to think that I should do sharing only if I've been succeed 
Even when I'm writing this post, I do think that way
But I'm trying to not to anymore
I wish I'm true


on Sep 9, 2015
2015

Ini #8 terakhirku di Bandung..

Sebagian dari banyaknya...
detik tak terekam, kata tak tersampaikan, doa dan harapan 
Thankyou for becoming my everyday surprises,
thank You :') :'~)
where ~ = infinite
#thewayeconstudentssimplifythings :p
12 Sep 2015, 5.14 am
Thankyou e!12 inter:
Harumi; yang dari pagi udah jalan2 bareng ngiterin Bandung,
ke BPS, ngelewatin sungai berlimbah, makan mie ayam Turiman :")
Prima, Erin, Sita, Luppy, Fathia


Makasih deadeku: Gre, Jejes, Lisbum, Pirii, Tika

Thank you Della for the sweet note from Busan, Koreađź’—
(karena ku request wkwk)

Makasih Dede Eca!

Maaciiii Depi

Makasih manteman Sharing Firman:
Tia, Sabeth, Jojo, Gre(lagi), Vicky, Dodi, Nanda

Makasih manteman TA STA:
Hana, Fitrie, Amel, Indri, Olan Tiffany, Sofyan (kurang Riri)

Hasil dari rapat yang 'tumbenan' :p
...semua saling mengasihi, betapa s'nang
kumenjadi k'luarganya...
Nuhun pisaaan siisbroo :")
14 Sep 2015, 10.53 am 
Makasiih temen-temen Boanerges Bandung :)
The man behind the camera.
Our last meeting here, your last 'celetukan', "banyak gaya klean!".
Thank You, God for let us shared our smiles. Cheer up gengs!
18 Sep 2015, 2.02 pm
Thank you Yohan (The man behind the camera) *we'll miss you bro!
Thank you Olan, Sella, Putri, Dita, Mikhael

on Nov 6, 2014
"Do not expect always to get an emotional charge or a feeling of quiet peace when you read the Bible.

By the grace of God you may expect that to be a frequent experience, but often you will get no emotional response at all.

Let the Word break over your heart and mind again and again as the years go by, and imperceptibly there will come great changes in your attitude and outlook and conduct.

You will probably be the last to recognize these...

Go on reading it until you can read no longer, and then you will not need the Bible any more, because when your eyes close for the last time in death, and never again read the Word of God in Scripture you will open them to the Word of God in the flesh, that same Jesus of the Bible whom you have known for so long, standing before you to take you for ever to His eternal home."

- Geoffrey Thomas, Reading the Bible
https://www.joshharris.com/2013/07/when_to_stop_reading_the_bible.php
on Sep 11, 2014
#1
From my bestfriends here, thanks for become my sisters and brothers who pray and share a lot with me, thanks for each times passed, I was skeptical and apathetic person but you guys teach me how trust and friendship works.

Thanks God Jesus, I was curious to learn a little, but You give me "best stories and life" which I can learn a lot from, thanks for surround me with best people You choose :')

8 September 2014, around 9 p.m. at Markas bersama
with Gressya, Sabeth, Tia, Nanda, Dodi, Vicky
Maaf ya pak koor dua kali, harus rela surprise nya dibagi dua sama gue haha


Bagaikan langit yang membentang
Begitu luas kasih Tuhan
Tiada terhitung pertolonganMu
Dalam hidupku
 
Bagaikan dalamnya samudra
Begitu dalam kasih Tuhan
Tiada terhitung kesetiaanMu
Dalam hidupku


#2
First-person who gave me surprise, kakak yang ulang tahun nya cuma beda sehari, Ms. Eli Putri Ayu Lumbantoruan hihi

8 September 2014, around 6.30 p.m. in front of Granus
with Eli & Dolie (langgeng dan kompak terus yaa bu koor pak askoor haha)

7 September 2014, around 7 p.m. at Braga City Walk
with Eli & Dolie


#3
A day after, at 5 p.m. before first time of teaching, best moments with teman-teman seperjuangan..

9 September 2014, 5 p.m., at Gd. B FEB Unpad
with e!12 inter : Intan, Dinda, Ican, Sita, Ega, Fathia, Sirin, Harumi-can


Its sepal will wilt, its fragrant might change, it becomes colourless. But may God bless our friendship last forever.

#4
Surprise gagal berkedok rapat HAHAHA, but not bad, aku maafkan kok :p thanks so much partners : mblo, mblo, dan bangmblo hehe, Gbua :)

10 September 2014, 1 p.m. at Cisral bawah
with Bang Dedy, Devy, Rafli
See? Background-nya aja gagal pisan haha :p


28 April 2014, setelah PD
Surprise di tengah jalan buat Bang Dedy's birthday

Donat madu, it had been the perfect choice since our first time of journey.  










Roma 8:18-30, Amsal 3:2, Pengkhotbah 11:9-10 & 12:1.
Sampai jumpa 8 yang paling ditunggu.
Thanks God Jesus, that bright full-moon was the sweetest gift :)
on Aug 21, 2014

Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia

Taufiq Ismail 1998


Suggested to be read by Mr. Handry Satriago (CEO GE Indonesia) whom I and my friends (call them crème of nation, or GGS haha) met on 13 August 2014 at GE Office, BRI II Tower, Jakarta. Four days before Independence Day of Indonesia, I am enlightened and enriched by met those kind of people, three days I have spent with them. It is grateful to know that I am part of them, but for information, these success are nothing if we do not SHARE.

Mencicipi kemerdekaan Indonesia dengan perspektif berbeda, dimana biasanya saya bergabung dengan teman-teman di Paskibraka, dikelilingi gedung pemerintahan dan protokoler, kami serba diistimewakan. Tahun ini, setelah merenungkan kembali puisi karya Bpk. Taufiq Ismail tersebut, saya memilih untuk melihat lebih riil apa yang sesungguhnya telah dicapai negeri ini setelah 69 tahun merdeka. 

Enam belas tahun sejak puisi tersebut ditulis, hingga kini masih relevan dengan keadaan di Indonesia. Sedih dan miris rasanya? Tidak cukup jika kita hanya merasa sedih dan berpikir, Indonesia butuh tindakan nyata, kerja keras dari setiap insannya.

WORKHARD VERY HARD!

Mari singsingkan lengan baju kawan, masih banyak pekerjaan harus diselesaikan.

Let me confess, mulai kangen dengan yang sevisi :'3, it is delightful, enriched by you guys.

After sessions at GE Office
with GE FSLP grantees 2012 and 2014

After dinner dengan yang sevisi :
Ms. Shasha, Ms. Ninda, Ms. Dina, Ms. Desi, Ms. Fattiya, Ms. Ori,
Mr. Anton, Mr. Nabil, Mr. Andro


17 Agustus 2011, 19.20 di Hotel D'Gria, Serang
 bersama Paskibraka Provinsi Banten 2010 dan 2011
asal Kota Tangerang

Pengibaran 17 Agustus 2010 di Provinsi Banten



Merdekaaa!!!
Dirgahayu Indonesiaku



Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia

I
Ketika di Pekalongan, SMA kelas tiga
Ke Wisconsin aku dapat beasiswa
Sembilan belas lima enam itulah tahunnya
Aku gembira jadi anak revolusi Indonesia 

Negeriku baru enam tahun terhormat diakui dunia
Terasa hebat merebut merdeka dari Belanda
Sahabatku sekelas, Thomas Stone namanya,
Whitefish Bay kampung asalnya
Kagum dia pada revolusi Indonesia 

Dia mengarang tentang pertempuran Surabaya
Jelas Bung Tomo sebagai tokoh utama
Dan kecil-kecilan aku nara-sumbernya
Dadaku busung jadi anak Indonesia

Tom Stone akhirnya masuk West Point Academy
Dan mendapat Ph.D. dari Rice University
Dia sudah pensiun perwira tinggi dari U.S. Army
Dulu dadaku tegap bila aku berdiri
Mengapa sering benar aku merunduk kini 

II
Langit langit akhlak rubuh, di atas negeriku berserak-serak
Hukum tak tegak, doyong berderak-derak
Berjalan aku di Roxas Boulevard, Geylang Road, Lebuh Tun Razak,
Berjalan aku di Sixth Avenue, Maydan Tahrir dan Ginza
Berjalan aku di Dam, Champs Elysees dan Mesopotamia
Di sela khalayak aku berlindung di belakang hitam kacamata
Dan kubenamkan topi baret di kepala
Malu aku jadi orang Indonesia.

III
Di negeriku, selingkuh birokrasi peringkatnya di dunia nomor
satu,

Di negeriku, sekongkol bisnis dan birokrasi berterang-terang
curang susah dicari tandingan, 

Di negeriku anak lelaki anak perempuan, kemenakan, sepupu
dan cucu dimanja kuasa ayah, paman dan kakek secara
hancur-hancuran seujung kuku tak perlu malu,

Di negeriku komisi pembelian alat-alat besar, alat-alat ringan,
senjata, pesawat tempur, kapal selam, kedele, terigu dan
peuyeum dipotong birokrasi lebih separuh masuk
kantung jas safari,

Di kedutaan besar anak presiden, anak menteri, anak jenderal,
anak sekjen dan anak dirjen dilayani seperti presiden,
menteri, jenderal, sekjen, dan dirjen sejati, agar
orangtua mereka bersenang hati,

Di negeriku penghitungan suara pemilihan umum sangat
-
sangat-sangat-sangat-sangat jelas penipuan besar-
besaran tanpa seujung rambut pun bersalah perasaan,

Di negeriku khotbah, surat kabar, majalah, buku dan
sandiwara yang opininya bersilang tak habis dan tak
putus dilarang-larang,

Di negeriku dibakar pasar pedagang jelata supaya berdiri pusat
belanja modal raksasa,

Di negeriku Udin dan Marsinah jadi syahid dan syahidah,
ciumlah harum aroma mereka punya jenazah, sekarang
saja sementara mereka kalah, kelak perencana dan
pembunuh itu di dasar neraka oleh satpam akhirat akan
diinjak dan dilunyah lumat-lumat, 

Di negeriku keputusan pengadilan secara agak rahasia dan tidak
rahasia dapat ditawar dalam bentuk jual-beli, kabarnya
dengan sepotong SK suatu hari akan masuk Bursa Efek
Jakarta secara resmi,

Di negeriku rasa aman tak ada karena dua puluh pungutan, lima
belas ini-itu tekanan dan sepuluh macam ancaman,

Di negeriku telepon banyak disadap, mata-mata kelebihan kerja,
fotokopi gosip dan fitnah bertebar disebar-sebar,

Di negeriku sepakbola sudah naik tingkat jadi pertunjukan teror
penonton antarkota cuma karena sebagian sangat kecil
bangsa kita tak pernah bersedia menerima skor
pertandingan yang disetujui bersama,

Di negeriku rupanya sudah diputuskan kita tak terlibat Piala
Dunia demi keamanan antarbangsa, lagi pula Piala
Dunia itu cuma urusan negara-negara kecil karena Cina,
India, Rusia dan kita tak turut serta, sehingga cukuplah
Indonesia jadi penonton lewat satelit saja,

Di negeriku ada pembunuhan, penculikan dan penyiksaan rakyat
terang-terangan di Aceh, Tanjung Priuk, Lampung, Haur
Koneng, Nipah, Santa Cruz, Irian dan Banyuwangi, ada pula
pembantahan terang-terangan yang merupakan dusta
terang-terangan di bawah cahaya surya terang-terangan,
dan matahari tidak pernah dipanggil ke pengadilan sebagai
saksi terang-terangan, 

Di negeriku budi pekerti mulia di dalam kitab masih ada, tapi dalam
kehidupan sehari-hari bagai jarum hilang menyelam di
tumpukan jerami selepas menuai padi.

IV
Langit akhlak rubuh, di atas negeriku berserak-serak
Hukum tak tegak, doyong berderak-derak
Berjalan aku di Roxas Boulevard, Geylang Road, Lebuh Tun Razak,
Berjalan aku di Sixth Avenue, Maydan Tahrir dan Ginza
Berjalan aku di Dam, Champs Elysees dan Mesopotamia
Di sela khalayak aku berlindung di belakang hitam kacamata
Dan kubenamkan topi baret di kepala
Malu aku jadi orang Indonesia.
on Feb 6, 2014
Makna Sebuah Titipan

Sering kali aku berkata, ketika orang memuji milikku,
bahwa sesungguhnya ini hanya titipan,
bahwa mobilku hanya titipan Nya,
bahwa rumahku hanya titipan Nya,
bahwa hartaku hanya titipan Nya,
bahwa putraku hanya titipan Nya,
tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya, mengapa Dia menitipkan padaku?

Untuk apa Dia menitipkan ini pada ku?
Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik Nya ini?
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya ?

Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah,kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka,kusebut dengan panggilan apa saja untuk melukiskan bahwa itu adalah derita.

Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku,
aku ingin lebih banyak harta, ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak rumah, lebih banyak popularitas,
dan kutolak sakit, kutolak kemiskinan, Seolah semua "derita" adalah hukuman bagiku.

Seolah keadilan dan kasih Nya harus berjalan seperti matematika :
aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku, dan
Nikmat dunia kerap menghampiriku.
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan Kekasih.
Kuminta Dia membalas "perlakuan baikku", dan menolak keputusanNya
yang tak sesuai keinginanku,
Gusti, padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah...
"ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja"

-W.S. Rendra